Ciee Hipster

Siapa belum tau hipster?
Saya gatau juga sih definisinya apa. Tapi ya semacam antimainstream gitu. Tapi kayaknya levelnya udah di atas antimainstream gitu mengingat semua orang mulai jadi antimainstream dan bikin antimainstream sekarang jadi mainstream. Duh.

Intinya kalo kamu pake kacamata lapis kulit berbentuk segitiga, kamu hipster. Kalo kamu pake baju yang potongan kanan kirinya beda, kamu hipster. Kalo kamu pake celana yang warna depan sama belakangnya beda, kamu hipster. Kalo kamu suka banget top 40-nya Rusia, kamu hipster. Jadi…. Ya gitu deh. Mungkin standar ‘hipster’ tiap orang beda-beda.

Kenapa saya tiba-tiba ngomongin soal hipster ini? Soalnya saya barusan ke toko yang hipster banget gitu.
Begitu masuk, saya disuguhi berbagai barang hipster mulai dari clothing sampai pernak-perniknya. Di salah satu corner, saya menemukan rak CD yang semuanya ga ada yang saya tau. Hipster abis.
Harganya juga hipster.

Jadi hipster ini lagi hip banget. Kemudian hipster = gaul. Atau mungkin begini:
“Ga gaul ga hipster” bukan “Ga hipster ga gaul”.

Bahkan levelnya udah di atas gaul ya? Iya deh.

Saya mau dong dibantu biar jadi gaul. Kan jadi lebih gampang jadi hipster.
Karena sesungguhnya tidak semua orang gaul itu hipster. Tapi semua orang hipster pasti gaul.

Hah ngaco.

Omong-omong maaf ya tulisan saya akhir-akhir ini suka ngaco soalnya saya lagi stress susah cari internet.

:O

Apa yang diperlihatkan oleh media ternyata benar adanya.

Jadi, hari ini saya pergi ke resto fastfood - sebut saja raja burger.
Begitu saya masuk resto tersebut, saya melihat seorang wanita asing dengan size plus plus plus sedang menunggu pesanan.
Setelah saya memesan dan mengambil tempat yang tidak jauh dari wanita plus, saya melihat wanita plus lain datang membawa nampan berisi berbagai pesanan. Maka berkumpul lah mereka. Rupanya ada 3 anak kecil yang literally kecil juga di sana. Kelihatannya mereka sekeluarga.
Salah satu wanita plus yang disinyalir sebagai si ibu terlihat sedang menasehati anaknya. Dari apa yang saya dengar, aksennya seperti orang Amerika. Mungkin memang benar orang Amerika.

Sambil makan saya berpikir. Wah, ternyata apa yang selama ini saya lihat di tivi bener juga.
Saya sering menemukan media yang membangun stereotype orang Amerika sebagai orang yang kelebihan berat badan karena suka makan junk food - biasanya burger. Dan itu yang saya lihat hari ini. Terlepas dari ini semua, tulisan ini ga bermaksud SARA atau semacamnya. Saya cuma share aja.

Tapi emang bener setiap orang dengan berat badan sungguh sangat extra itu akibat junk food? Atau makan junk food pasti bikin kita overweight? Atau setiap orang Amerika itu overweight? Atau lagi, setiap orang Amerika itu makan junk food?

Sampai di sini saya ngerasa ngelantur.

Oke stop aja. Yang jelas makan junk keseringan itu ga bagus. Bisa bikin miskin karena harganya mahal.

Tapi saya harap resto junk food di luar sana tetap jaya. Dibilang kapitalis bodo amat selama enak.

Udik Sih Tapi Biarin

Saya udik. Saya harus akuin.


Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di BSD. Reaksi pertama saya: ih waw… Singapore.

Rasanya beneran kayak lagi di Singapur. Jalanan di sini banyak boulevard gitu. Jalannya gede gede kayak tol Changi - pusat kota. Plis deh saya kayak orang goblok di sini.

Saya ga nyangka Indonesia punya ginian.

Kemudian di tengah perjalanan, saya melihat tanda bertuliskan ‘Sinarmas Land’. Njir sinarmas. Njir saya mau jadi cucunya sinarmas.

Terus sampe sekarang saya masih heran aja gitu sama tempat ini. Jadi biarkan saya menikmati keheranan saya dulu. Siapa tau saya dapet inspirasi bikin beginian di Jogja.
Yeah.

(Don’t) Panic

Pernah ga sih mengalami kepanikan sampe kamu merasa hidupmu terlalu dramatis?
Well, itu yang hari ini saya dan dua temen saya rasakan.

Jadi ceritanya tadi siang saya masukin materi ke sebuah percetakan di gejayan. Itu, percetakan di utaranya Toko Merah.
Saya masukin materi itu jam 11 pagi. Setelah nunggu beberapa saat, akhirnya nama saya dipanggil. Saya ga butuh editan begini begitu. Tinggal susun dan cetak. Kertas saya bawa sendiri karena emang mereka gapunya kertas yang saya mau.

Setelah ngebrief mas operator dan saya cukup yakin untuk menyerahkan nasib cetakan saya ke si mas. Kata si mas, saya akan dikasih liat contoh cetakan pertama biar saya acc. Jadi saya menunggu lagi.

* masih menunggu


* masih menunggu juga

Lama-lama saya bete. Saya laper banget, belum makan dari pagi. Jadi saya putuskan untuk nanya mbak-mbak customer service.

“Mbak, pesenan saya boleh ditinggal ga sih?”

“Err, emang tadi yang ngeopreratorin siapa ya?” tanya si mbak.

Ya mana saya tau namanya. Emang saya tadi kenalan dulu?

Pertanyaan saya tidak mendapat jawaban. Saya dibiarkan menunggu dalam ketidakjelasan sementara para mbak cs ini asik becandaan ga jelas. Kekanakan.

Singkat cerita akhirnya hasil cetakan pertama saya muncul. Bagian bawahnya kepotong, tapi kata mbak cs itu karena motongnya ga pake sesuatu yang saya lupa namanya. Saya sih ga mau ambil pusing. Saya cuma mau hasil akhirnya aja dan sudah saya serahkan sepenuhnya ke percetakan itu.

Jadi setelah saya acc, saya tinggal untuk cari makan. Saya udah ga kuat.

Mereka bilang hasilnya bisa saya ambil jam 2. Ketika saya tanya musti pake nota atau ga, mereka bilang gausah. Saya percaya kemampuan mereka.

Ternyata saya salah.

Jam 3 saya datang lagi untuk ambil hasil cetakan. Sampai di meja pengambilan barang, saya kembali dihadapkan pada ketidakjelasan.
“Tadi pesen sama cs yang mana mbak?”

Yo mbuh yo. Saya mangkel.

Waktu terus bergulir. Jam menunjukkan pukul setengah 4. Saya mulai panik karena materi ini harus saya bawa ke Jakarta jam 5 sore ini. Sementara saya masih harus pulang dulu ke rumah yang berjarak 11 km dari gejayan.

Kepanikan saya semakin menjadi ketika… ternyata cetakan saya belum dijilid seperti yang saya minta. Bahkan hasil print-nya salah. Saya minta 4 kopian dan mereka cuma cetak 1 dan tidak dilanjutkan karena si mas operator salah setting. Saya males denger alasan-alasan selanjutnya.

Saya panik sepanik-paniknya. Saya udah hampir nangis di meja pengambilan barang. Saya emosi dan udah lupa tadi saya ngomong apa aja. Hul.

Abisnya mereka sukses buang-buang kertas saya. Mereka sukses buang-buang waktu saya.

Meski akhirnya kelar juga dan saya bebas biaya cetak di sana, tetep aja sindrom panik sudah menyerang saya.


Rupanya bukan saya aja yang terserang si panik sore ini. Duo temen saya, Ken dan Rara, baru saja mengalami 3 menit dramatis.
Yep, mereka yang akan berangkat ke Jakarta bersama saya hampir ketinggalan kereta.

Mereka sampe di stasiun Lempuyangan tepat ketika tanda kereta api siap berangkat. Pintu kereta sudah ditutup dan mereka masih di luar gerbang.
Mereka kaget bukan kepalang melihat kereta yang harus mereka tumpangi bersiap meninggalkan Lempuyangan.
Kepanikan mereka semakin bertambah ketika mereka belum menemukan saya. Mereka tidak tahu kalau saya nunggunya di stasiun Tugu. Saya yang gatau juga kalau meeting point sebenarnya adalah Lempuyangan jadi panik ketika Rara telpon, “Gus, kamu langsung ke Tugu aja ya. Ini keretanya udah jalaaannn!!!”

Saya: WHAT?

Saya butuh beberapa detik untuk mencerna maksud Rara dan saya baru paham kalo saya seharusnya ke Lempuyangan, bukan Tugu. Tapi untung saya salah tempat.

Setelah ketemu, dua temen saya masih kelihatan panik. Kata mereka, petugas stasiun sampe harus gedor pintu kereta supaya mereka tidak ketinggalan.
Dramatis, kata mereka.

But after all, kami sekarang sudah bareng-bareng di kereta menuju Jakarta. Kayaknya oke kalau kita dengerin Don’t Panic-nya Coldplay. Ditambah obrolan hangat dan cemal cemil coklat Swiss dari Bisma. Terimakasih Bisma, kami bahagia :)

Terakhir, semoga kami bisa jauh-jauh dari panik. Paling tidak untuk 5 hari ke depan :’)

Mari Berhitung

Tulisan ini adalah tentang kenangan masa kecil saya …

Dulu waktu saya masih SD, saya kalau berangkat sekolah bareng adek saya. Kebetulan kami satu sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah kami tidak dekat, jadi kami selalu berusaha membuat perjalanan dari rumah ke sekolah ini menjadi tidak membosankan. Salah satunya adalah MAIN GAME! Yeiy. kami belum kenal gosip.

 

Game yang kami mainkan bukan monopoli, atau uno, atau tamagotchi, tapi game berhitung. Yep, kami akan berlomba-lomba menghitung pohon kersen atau gang.

Yang belum tau apa itu pohon kersen, nih…

image

Apa bedanya dengan pohon talok?

Gaada. Mereka sama aja, tapi kersen lebih keren.

Oke. Selain pohon kersen, kami juga suka ngitungin gang. Bisa dibayangin ya kalo gang kayak apa..

Kami punya kriteria sendiri gang seperti apa yang patut dihitung dan yang ga patut dihitung. Sementara untuk pohon kersen, kami akan hitung semua yang ada.

Cara mainnya adalah, karena kami diantar pake mobil, saya akan duduk di salah satu (entah kanan atau kiri) dan adek saya di sisi yang lain. Begitu jalan dari rumah, hitungan dimulai. Saya akan menghitung pohon kersen/gang di sisi di mana duduk dan adek saya menghitung pohon kersen/gang yang ada di sisi di mana dia duduk. Semakin mendekati sekolah, pertandingan akan semakin sengit karena jumlah masing-masing hitungan kami kejar-kejaran.

Game ini membuat tiap pagi, kami selalu berebut tempat duduk. Tapi seiring berjalannya waktu, kami semakin besar dan semakin pintar. Dan kemudian kami sadar bahwa game ini tidak adil. Kenapa?

Tiap pagi, kami melewati rute yang sama untuk sampai sekolah. Sementara jumlah pohon kersen dan gang yang kami lewati juga tetap. Percuma kami adakan lomba berhitung tiap hari kalo ketebak banget sisi mana yang bakal menang. Justru sebenernya inti perlombaan ini ada di ‘rebutan tempat duduk’ kali ya.

Ah bodo amat, yang penting perjalanan kami jadi ga garing.

Sekarang ketika kami udah pada gede, masing-masing punya kepentingan studi sendiri-sendiri, saya dan adek saya tidak lagi berangkat sekolah bersama. Kadang-kadang saya pengen main itung-itungan pohon kersen/gang lagi. Tapi saya berangkat kuliah sendiri. Ga seru gaada lawannya.

Pun kalau saya dan adek saya berkesempatan untuk pergi bersama, di mobil kami akan duduk manis dan sibuk dengan gadget masing-masing. Tau-tau udah nyampe tempat tujuan.

Ah~ saya jadi kangen.

Kalo kalian punya pengalaman berangkat sekolah seperti apa?

Swinging Night

“If one day you lose your way

Just remember that I’m here to stay

Don’t you give up, keep your chin up,

and be Happy!” (Happy - Mocca)

Saya lagi happy soalnya saya barusan nonton Mocca.

Sebenernya saya bukan penggemar Mocca. Saya menikmati beberapa lagu mereka, tapi bukan yang terus ngefans banget gitu, ngerti kan? Terus kenapa saya nonton?

Ya saya nonton karena pengen aja. Kebetulan temen saya nawarin tiket presale, jadi kenapa enggak?

Hari ini saya hampir gagal nonton mereka. Saya abis ngapa-ngapain banget, badan capek, ga sempet pulang, bawaanya udah males ke mana-mana. Tapi sayang juga, saya udah beli tiket. Akhirnya dengan muka kucel saya putuskan untuk tetep nonton. Pikir saya, ya itung-itung relaksasi. So Mocca, you better refresh me.

Nyampe gedung pertunjukkan aja saya telat. Saya hampir gabisa masuk gitu. Pintu depan udah dikunci. Untung venue tempat mereka manggung ini  udah saya katamin. Dengan kemampuan super, saya berhasil masuk lewat backstage. Heheh. Singkatnya, saya berhasil duduk nyaman di dalem gedung yang AC-nya setengah hati itu. huft~

 

Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. “Ini dia… MOCCA!!” begitu kata MC. Satu lagu pertama saya masih biasa aja, lagu kedua saya coba cermati lebih detil. Dan oh God, saya baru sadar suara live Mbak Arina bening banget. Beneran suaranya kayak rekaman. Makan apa sih dia?

Sejujurnya ini bukan kali pertama saya nonton Mocca. Empat tahun lalu mereka manggung juga di salah satu pensi SMA sodara SMA saya dan saya hadir juga. Tapi kali ini beda. Mungkin karena saya juga sekarang punya atensi lebih.

 

Saya bisa bilang Mocca adalah band jujur. Pertunjukkan live mereka adalah jempolan. Interaksi yang dibangun Arina, vokalisnya, dengan penonton juga sangat menyenangkan. Mereka adalah band keren yang ga sok-sok keren. Oiya, saya suka suara pemain bass-nya, Toma. Di lagu ‘This Conversation’, dia ikut nyanyi. Suaranya itu… hmmm antara Michael Buble dan Jamie Cullum.

 

Malam ini Mocca bawain total 25 lagu. Dari mulai ‘I Remember’, ‘On The Night Like This’, sampai cover ‘Hyperballad’-nya Bjork. The cover was awesome :’)


Beberapa lagu yang jarang didengar kuping saya seperti ‘Butterflies In My Tummy’, ‘This Conversation’, dan ‘Happy’ mungkin akan jadi lagu-lagu favorit baru saya. Saya suka banget banget banget dengan ‘Butterflies In My Tummy’. Satu, karena memang lagunya oke, dua, karena saya suka banget dengan kiasan ‘kupu-kupu’ dalam perut itu (apalagi sensasinya) hihihi.

 

Pada intinya, Mocca malam ini sukses me-refresh saya, sukses juga membuat saya jadi swinging friendMereka sukses membuat saya enggan beranjak dari tempat duduk sekalipun kebelet pipis. Dan penampilan mereka malam ini cukup membuat saya tepuk tangan sambil berdiri.

image

Setelah encore, saya pulang dengan hati riang. Terima kasih Mocca untuk pengalaman ini. Terus berkarya, terus menginspirasi :)

absoluteexoplanet:

[PHOTO TEASER] Kai for “XOXO”

Cr. EXO’s Official WebSite

You’re too hot I can’t handle it

Wagu. Eh?

Sebagai orang Jawa, kata wagu pasti bukan sesuatu yang asing didengar. 

Wagu sendiri biasanya bergandengan dengan ‘hasss’, ‘halah’, ‘hmmm’. Misalnya: Hasss wagu, halah wagu, hmmm wagu. Lama kelamaan wagu juga menerobos pattern bahasa Jawa dengan cara sok-sokan bersanding dengan bahasa Indonesia. Contohnya: hhmmm wagu e kamu..

Nah, jadi apa sih sebenarnya wagu itu?

Pertanyaan penting-penting-enggak ini sudah bersarang di kepala saya sejak tahun lalu. Tepatnya saat teman saya yang asli Banten bertanya “Wagu itu apa sih?”. 

Jujur saja, saya bingung jawabnya. Saya tidak menemukan definisinya secara tepat. Makin susah lagi ketika ditanya, “Yaudah deh, emang bahasa Indonesianya wagu apaan?”.

Nah itu makin gaada, boy.

Setelah itu sampai sekarang, saya terus menerus mencari arti wagu, khususnya dalam bahasa Indonesia. Maksudnya gini, ketika si wagu ini tidak bisa diterjemahkan, paling tidak dia punya definisi dalam bahasa Indonesia. Sayangnya saya tetep ga nemu.

Bagi saya, wagu itu untuk mengungkapkan sesuatu yang aneh, tidak pas, menyebalkan, bisa juga lucu tapi lucu yang aneh.. yang wagu. Aaahhh~ tuh kan. Mau bilang wagu itu sama dengan tidak pas tapi kok rasanya bukan itu. Wagu itu ya wagu. Dia independen. Itu menurut saya sih. Kalau ada yang bisa membantu saya memahami kata wagu ini, mbok saya ditulungi.

Mungkin memang seharusnya definisi dari wagu itu ya wagu. Eh? Hah? Gimana sih? Wagu….

What if the person you think is too cool to talk to thinks that you’re too cool to talk to

image

(via heyfunniest)

20 Detik

Suatu waktu, saya janjian dengan seorang teman. Kami satu kampus tapi kami jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Janjian ini diharapkan bisa menjadi break untuk kami di tengah hecticnya dunia perkuliahan, pekerjaan, percintaan (kalo ada), dsb dsb.

Singkat cerita malam itu, saya dan teman saya ini plus satu teman saya yang lain - kami bertiga menuju sebuah cafe di Prawirotaman. Saya yang ngusulin tempat itu, mau sok bule gitu. Tapi ternyata tempat yang saya usulkan sedang punya gawe, ulang taunan. Cafenya rame sekali, jadi kami memutuskan untuk kongkow di cafe seberangnya.

Ditemani 3 botol bir dan 1 loyang besar pizza, kami mulai berbincang-bincang. Pembicaraan diawali dengan saling bertukar pengalaman masing-masing yang terjadi beberapa hari belakangan. Malam semakin larut, bir semakin menyusut, kami semakin terhanyut. Wacana awal yang “yah ngobrol santai aja gitu~” berubah menjadi ajang curhatan saya dan berbuntut pada pembicaraan tentang hidup. Ya, HIDUP. abot ndes.

Teman-teman saya ini rupanya adalah para lelaki life thinker akut. Bawaan sejak SMA mungkin. 

Waktu itu saya cerita tentang saya, berkeluh kesah tepatnya. Kenapa saya begini kenapa saya begitu. Kemudian pada satu titik, saya sadar problem point saya adalah di komunikasi. Saya sulit sekali menuturkan apa yang ingin saya tuturkan.

Katanya anak komunikasi, tapi sendirinya gabisa berkomunikasi…” gitu sih kata teman saya. Kata ibu saya juga. Hiks.

Saya adalah tipe orang yang suka memendam masalah sendiri. Saya yang tau rahasia saya, saya yang tau masalah saya, saya yang sok tau solusi atas permasalahan saya, semua saya pendam sendiri, kalau sakit ya sakit sendiri, itu konsekuensi. Tapi setiap manusia punya batasan. Saya mulai tidak kuat menerima konsekuensi atas idealisme saya sendiri. Tapi saya tidak tahu gimana cara mengatasinya :(

Lalu salah satu teman saya ini nyeletuk, “Kamu itu harus nemu 20 detik. 20 detik aja buat ngomong.”

Sepersekian detik saya terdiam. Bener. Bener banget. bener banget ndesss. Just 20 seconds.

Tapi untukku, dapet 20 detik itu perlu pompaan panjang,” kata saya.

“Kamu cuma perlu mencoba.” Oke, saya tidak bisa tidak setuju dengan ini. Maka saya akan mencoba.

Percakapan malam itu terus terulang di otak saya. Kamu cuma butuh 20 detik untuk bicara and you’ll feel good. Dan thank God, saya sudah membuktikannya. Saya sudah mengalami 20 detik itu meskipun awalnya harus menghela nafas berulang kali dan menahan supaya kelenjar air mata saya ga kehabisan stok. Tapi setelahnya saya merasa lega. Saya merasa sekian kilo lebih ringan.

Mungkin kalian ada yang mengalami kondisi serupa ini. Kalau iya baiknya segera temukan20 detikmu, apapun bentuknya. Di-share juga kalau berkenan :)

So, come on… just 20 seconds.